PRAKTIKUM
IV
Topik : Platyhelminthes
Tujuan :1. Mengetahui ciri morfologi dari
phyllum Platyhelminthes
2. Mengamati cara gerak/jarak tempuh
Platyhelminthes
(Planaria)
3. Mengamati cara makan Planaria
4. Mengamati bagian-bagian
tubuh/ciri morfologi Planaria
sp dan Fasciola hepatica.
Hari / tanggal :
Kamis / 28
April 2016
Tempat :
Laboratorium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin
A. Alat :
1. Mikroskop 6.
Baki
2. Kaca
benda 7.
Pinset
3. Kaca penutup 8.
Kaca arloji
4. Loupe 9. Alat
tulis
5. Kamera 10. Silet
B. Bahan :
1.
Planaria sp
2.
Preparat/awetan Fasciola
hepatica
II.
CARA KERJA
Cara mendapatkan Planaria:
habitat di perairan sungai, danau yang jernih, air tidak terlalu deras dan dangkal, berikan potongan
daging/cacing tanah kecil pada sela-sela batu dan tidak terbawa aliran air,
tunggu beberapa saat.
A. Planaria
1. Mengamati
planaria yang diletakkan pada cawan petri, yang telah diberi sedikit air dengan
menggunakan mikroskop(binokuler stereo elektrik).
2. Mengamati
morfologi Planaria kemudian menggambarnya dan mengamati bagaimana cara hewan
tersebut bergerak.
B. Fasciola
hepatica
1. Mengambil lendir
pada keong mas kemudian meletakkannya ke kaca benda lalu ditutup dengan kaca
penutup dan mengamatinya menggunakan
mikroskop(monokuler cahaya).
2. Mengamati daur
hidup Fasciola hepatica pada lendir
tersebut dan menetukan sudah sampai fase mana daur hidup hewan tersebut.
3. Mengamati awetan
Fasciola hepatica lalu
mengidentifikasi struktur anotomi hewan tersebut.
III.
TEORI DASAR
Platyhelminthes terdiri atas 3
kelas yaitu: Turbelaria, Trematoda dan Cestoda. Planaria merupakan contoh dari
kelas Trematoda. Planaria ini memiliki tubuh yang pipih, hidup di air tawar,
mulut terdapat pada bagian ventral, memiliki bentuk seoerti mata, dan mempunyai
auricle. Hewan ini tidak ada memilik anus, mempunyai daya regenerasi yang
sangat baik. Sedangkan pada Fasciola
hepatica juga memiliki tubuh yang pipih, tidak bersegmen, pada bagian mulut
terdapat pengisap dan kadang-kadang mempunyai kait-kait, dan biasanya hewan ini
hermafrodit.
Turbellaria
yang hidup bebas di dalam air atau ditempat yang lembab, Trematoda yang hidup
sebagai parasit, dan Cestoda yang hidup sebagai parasit di dalam usus
Vertebrata. Fasciola hepatica
termasuk dalam kelas Trematoda.
Mulut
Fasciola hepatica terletak di tengah-tengah
alat hisab depan. Makanannya terdiri dari jaringan atau cairan tubuh tuan
rumahnya yang dihisap oleh alat hisap kemudian memalui mulut masuk ke dalam
saluran pencernaanya. Kelas Trematoda dapat kita bagi menjadi 2 ordo :
Monogenea dan Digenea. Jenis Monogenea hanya mempunyai satu tuan rumah saja.
Telurnya yang dilepas kedalam air tidak banyak jumlahnya, bahkan kadang-kadang
hanya satu butir saja. Larva yang terjadi langsung melekat pada tuan rumahnya,
misalnya ikan, katak, atau reptil. Kadang-kadang di dalam suatu perairan
terdapat bsnysk sekali larva yang semacam itu sehingga dapat mematikan banyak
anak ikan, misalnya jenis Gyrodactylus
yang hidup pada sirip, kulit dan insang ikan mas. Jenis hewan dalam ordo ini
merupakan parasit luar (ektoparasit) vertebrata, pada manusia belum pernah di
dapat.
IV.
HASIL PENGAMATAN
1.
Planaria sp
Foto pengamatan
Keterangan:
1.
mulut
2.
Posterior
3.
Tubuh
Foto
literatur
Keterangan:
2. Otak
3. Anterior
4. Posterior
5. Mata
6. Tubuh
2.
Fasciola Hepatica
Foto pengamatan
Keterangan:
1.
Ventrosa oral

2.
Ventrosa ventral
3.
Intestine remificado
4. Faringe
musculosa
5.
Poro genital
Foto
literatur

Keterangan:
1.
Ventrosa oral
2.

Ventrosa ventral
3.
Intestine remificado
4.
Faringe musculosa
5.
Poro genital
3.
Siklus hidup Platyhelminthes
Foto pengamatan
Foto
Literatur
V. ANALISIS DATA
1. Planariaa Sp
Klasifikasi :
Kingdom :
Animalia
Phylum :
Platyhelminthes
Class :
Turbellaria
Ordo :
Tricladida
Sub ordo :
Paludicola
Family :
Tricladidae
Genus :
Planaria
Species : Planaria sp.
Sumber : (Verma. 2002)
Phylum Platyhelminthes kelas Turbellaria yang diwakili dengan mengamati Planaria sp. Planaria sp dapat ditemukan di sungai, mata air, kolam dan
danau di bawah batu-batuan atau di tempat-tempat yang agak dingin dan terhindar dari polusi. Biasanya cacing ini
menempel di batuan atau di daun yang tergenang air. Bila kita ingin mengambil
cacing ini cukup kita beri umpan sepotong daging ke perairan yang kita duga
terdapat cacing itu. Bila ditempat itu memang ada cacing Planaria sp maka cacing tersebut akan menempel pada umpan.
Bentuk tubuh Planaria ini adalah pipih dorsoventral,
dengan bagian kepala yang berbentuk seperti segitiga, sedangkan bagian ekornya
berbentuk meruncing. Panjang tubuh planaria sekitar 5-25 mm, tetapi bagi
Planaria yang hidup di darat dapat mencapai 60 cm. Bagian tubuh sebelah dorsal
warnanya lebih gelap daripada tubuh sebelah ventral. Di bagian
kepala yaitu di bagian samping kanan dan kiri terdapat tonjolan yang menyerupai
telinga yang biasa disebut aurikel. Tepat di bawah bagian kepala terdapat
bagian tubuh menyempit yang menghubungkan bagian badan dan bagian kepala,
disebut bagian leher. Kira-kira di dekat pertengahan tubuh bagian ventral agak
ke arah ekor ditemukan lubang mulut. Lubang mulut ini berhubungan dengan
kerongkongan atau pharynx yang dindingnya dilengkapi dengan otot daging
sirkular maupun longitudinal. Kerongkongan ini dapat ditarik dan dijulurkan.
Dalam posisi menjulur, kerongkongan tersebut bentuknya mirip dengan belalai,
dan biasa disebut proboscis.
Cacing
ini bergerak dengan cara mengangkat bagian posterior tubuhnya. Tepat dibawah
bagian kepala, yaitu bagian samping kanan dan kiri terdapat tonjolan yang
menyerupai telinga. Dan tepat dibawah kepala terdapat bagian menyempit yang
menghubungkan bagian badan dan bagian kepala yang disebut leher. Di sepanjang
pinggiran tubuh bagian ventral ditemukan zona adesif. Zona adesif tersebut
menghasilkan zat yang liat yang berfungsi untuk melekatkan diri dipermukaan
benda yang ditempelinya. Di permukaan ventral pada tubuh terdapat rambut-rambut
getar halus yang berfungsi dalam pergerakan. Gerakannya lurus sepanjang lendir yang diekskresikannya.
Makanan
cacing ini terdiri dari hewan-hewan kecil lainnya yang masih hidup maupun yang
telah mati. Cara makan atau menangkap mangsa pada Planaria, mula-mula Planaria sp bergerak meluncur selama
mengejar mangsanya kemudian ujung anteriornya dibelokkan apabila tersentuh oleh
mangsa kemudian Planaria sp akan melingkarinya. Dengan lendir
excert glandulae mucosae yang terdapat di sepanjang sisi badan dan kapsula,
maka mangsa dapat lingkari dengan erat menangkap mangsa. Setelah itu mangsa
yang sudah dilingkari tadi dimasukkan ke dalam mulutnya. Kemudian Planaria sp diam dengan separo badan
mangsa pada bagian anterior dan separo badannya diliputi bagian posteriornya.
Untuk selanjutnya faring akan ditonjolkan keluar untuk mengambil mangsa dan
dengan segera mangsa ditarik masuk ke dalam mulut bersama faring.
Sistem pencernaannya terdiri atas mulut, proboscis,
faring dan usus yang bercabang. Mulut terletak pada permukaan ventral tepatnya
di bagian belakang tengah tubuhnya. Proboscis yaitu tenggorokan yang dapat
ditonjolkan ke luar yang terletak kira-kira di tengah-tengah mulut. Faring
terletak tepat di belakang. Makanan masuk melalui mulut, dan diedarkan ke
seluruh tubuh melalui cabang-cabang usus. Cabang usus tersebut ada 3, satu
menuju anterior dan dua menuju posterior. Makanan yang tidak dicerna akan
dikeluarkan kembali melalui mulutnya karena Planaria
sp tidak mempunyai anus.
2.
Cacing
hati (Fasciola hepatica)
Klasifikasi
Kingdom :
Animalia
Sub kingdom :
Invertebrata
Phylum :
Platyhelminthes
Classis :
Trematoda
Order :
Digenia
Familia : Digeniadae
Genus :
Fasciola
Species : Fasciola hepatica
(Hegner & Engemen : 1968)
Fasciola
hepatica yang
termasuk jenis kelas Trematoda. Pada praktikum ini kami menggunakan dua bahan yaitu
dari awetan Fasciola hepatica dan
keong mas untuk mengamati siklus hidup cacing tersebut yang terdapat didalam
keong mas. Keong mas tersebut sebagai inang perantara. Dan kami berhasil
menemukan siklus hidupnya yang telah memasuki fase serkaria. Pada fase ini serkaria
yang mempunyai ekor dapat
menembus jaringan tubuh siput dan keluar berenang dalam air. Kemudian ciri-ciri dari cacing
hati ini mempunyai dua alat hisap,
satu didepan dan satu lagi dibagian belakang tubuhnya. Mulutnya terletak di
tengah-tengah alat isap depan. Hewan ini hidup parasit dalam kantung empedu
pada biri-biri, sapi, babi, dan hewan pemakan rumput lainnya, dan kadang
ditemukan juga pada manusia. Cacing hati mempunyai ukuran panjang 2,5 – 3 cm
dan lebar 1 - 1,5 cm.
Tubuh Fasciola hepatica adalah triploblastik.
Ektoderm tipis yang dilapisi oleh kutikula yang berfungsi melindungi jaringan
di bawahnya dari cairan hospes. Ektoderm mengandung sisik kitin dan sel-sel
tunggal kelenjar. Endoderm melapisi
saluran pencernaan. Mesoderm merupakan jaringan yang membentuk otot, alat
ekskresi, dan saluran reproduksi. Disamping itu terdapat jaringan parenkim yang
mengisi rongga antara dinding tubuh dengan saluran pencernaan.
3.
Siklus hidup Platyhelminthes
Siklus
Hidup Platyhelminthes :
a. Cacing
dewasa bertelur di dalam saluran empedu dan kantong empedu sapi atau domba.
Kemudian telur keluar ke alam bebas bersama feses domba. Bila
mencapai tempat basah, telur ini akan menetas menjadi larva bersilia yang
disebut mirasidium. Mirasidium akan mati bila tidak masuk ke dalam tubuh siput
air tawar (Lymnea auricularis-rubigranosa).
b. Di
dalam tubuh siput ini, mirasidium tumbuh menjadi sporokista (menetap dalam
tubuh siput selama + 2 minggu).
c. Sporokista
akan menjadi larva berikutnya yang disebut Redia. Hal ini berlangsung secara partenogenesis.
d. Redia
akan menuju jaringan tubuh siput dan berkembang menjadi larva berikutnya yang
disebut serkaria yang mempunyai ekor. Dengan ekornya serkaria dapat menembus
jaringan tubuh siput dan keluar berenang dalam air.
e. Di
luar tubuh siput, larva dapat menempel pada rumput untuk beberapa lama.
Serkaria melepaskan ekornya dan menjadi metaserkaria. Metaserkaria membungkus
diri berupa kista yang dapat bertahan lama menempel pada rumput atau tumbuhan
air sekitarnya. Perhatikan tahap perkembangan larva Fasciola hepatica.
f. Apabila
rumput tersebut termakan oleh domba, maka kista dapat menembus dinding ususnya,
kemudian masuk ke dalam hati, saluran empedu dan dewasa di sana untuk beberapa
bulan. Cacing dewasa bertelur kembali dan siklus ini terulang lagi.
Dalam
daur hidup cacing hati ini mempunyai dua macam tuan rumah yaitu:
1) Inang
perantara yaitu siput air
2) Inang
menetap,yaitu hewan bertulang belakang pemakan rumput seperti sapi dan domba..
VI.
KESIMPULAN
1.
Planaria sudah mempunyai alat indera
berupa bintik mata, dan indera aurikel yang kedua-duanya terletak di bagian
kepala.
2.
Tubuh Planaria berbentuk pipih
dorsoventral, dengan bagian kepala yang berbentuk segitiga, sedangkan bagian
ekornya berbentuk meruncing.
3.
Planaria sp bergerak menggunakan silia
yang terdapat pada epidermis tubuhnya dan gerakannya lurus sepanjang lendir
yang diekskresikannya.
4.
Cara makan Planaria sp. adalah dengan memasukkan mangsanya ke dalam mulut dan
dikeluarkan melalui mulut lagi, karena saluran pencernaannya hanya terdiri dari
mulut, faring, dan usus, tidak mempunyai anus.
5.
Fasciola
hepatica yang ditemukan pada
lendir keong merupakan siklus hidup hewan tersebut dan yang ditemukan sudah
memasuki fase serkaria.
6. Fasciola hepatica biasanya hidup sebagai parasit pada hewan-hewan ternak
dan larvanya biasanya hidup di dalam tubuh siput.
7.
Daur hidup Fasciola hepatica dari telur →
larva (mirasidium) → sporokista → redia → serkaria → metaserkaria → cacing
dewasa (pada hati hewan ternak).
VII.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim
b. 2016. http://www.wwa-fs.bayern.com
Diakses tanggal 8
Mei 2016
Bunda
Halang, Dharmono, Mahrudin. 2016.
Penuntun Praktikum Zoologi Invertebrata. Jurusan:
PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin.
Rusmana, adam. 2011. Zoologi
Invertebrata.Alfabeta. Bandung.