Minggu, 12 Juni 2016

Praktikum IV (Platyhelminthes). Zoologi Invertebrata



PRAKTIKUM IV

Topik              :  Platyhelminthes
Tujuan             :1. Mengetahui ciri morfologi dari phyllum Platyhelminthes
                          2. Mengamati cara gerak/jarak tempuh Platyhelminthes
                              (Planaria)
                          3. Mengamati cara makan Planaria
     4. Mengamati bagian-bagian tubuh/ciri morfologi Planaria sp dan Fasciola hepatica.
Hari / tanggal            :  Kamis / 28 April 2016
Tempat           :  Laboratorium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin

I.                   ALAT DAN BAHAN
A. Alat            :
1.      Mikroskop                                6. Baki
2.      Kaca benda                              7. Pinset
3.      Kaca penutup                           8. Kaca arloji
4.      Loupe                                        9. Alat tulis
5.      Kamera                                     10. Silet
                                                  
B. Bahan        :
1.      Planaria sp
2.      Preparat/awetan Fasciola hepatica

II.               CARA KERJA
Cara mendapatkan Planaria: habitat di perairan sungai, danau yang jernih, air tidak terlalu deras dan dangkal, berikan potongan daging/cacing tanah kecil pada sela-sela batu dan tidak terbawa aliran air, tunggu beberapa saat.

A. Planaria
1.   Mengamati planaria yang diletakkan pada cawan petri, yang telah diberi sedikit air dengan menggunakan mikroskop(binokuler stereo elektrik).
2.   Mengamati morfologi Planaria kemudian menggambarnya dan mengamati bagaimana cara hewan tersebut bergerak.

B. Fasciola hepatica
1.   Mengambil lendir pada keong mas kemudian meletakkannya ke kaca benda lalu ditutup dengan kaca penutup dan  mengamatinya menggunakan mikroskop(monokuler cahaya).
2.   Mengamati daur hidup Fasciola hepatica pada lendir tersebut dan menetukan sudah sampai fase mana daur hidup hewan tersebut.
3.   Mengamati awetan Fasciola hepatica lalu mengidentifikasi struktur anotomi hewan tersebut.

III.            TEORI DASAR
Platyhelminthes terdiri atas 3 kelas yaitu: Turbelaria, Trematoda dan Cestoda. Planaria merupakan contoh dari kelas Trematoda. Planaria ini memiliki tubuh yang pipih, hidup di air tawar, mulut terdapat pada bagian ventral, memiliki bentuk seoerti mata, dan mempunyai auricle. Hewan ini tidak ada memilik anus, mempunyai daya regenerasi yang sangat baik. Sedangkan pada Fasciola hepatica juga memiliki tubuh yang pipih, tidak bersegmen, pada bagian mulut terdapat pengisap dan kadang-kadang mempunyai kait-kait, dan biasanya hewan ini hermafrodit.
Turbellaria yang hidup bebas di dalam air atau ditempat yang lembab, Trematoda yang hidup sebagai parasit, dan Cestoda yang hidup sebagai parasit di dalam usus Vertebrata. Fasciola hepatica termasuk dalam kelas Trematoda.
Mulut Fasciola hepatica terletak di tengah-tengah alat hisab depan. Makanannya terdiri dari jaringan atau cairan tubuh tuan rumahnya yang dihisap oleh alat hisap kemudian memalui mulut masuk ke dalam saluran pencernaanya. Kelas Trematoda dapat kita bagi menjadi 2 ordo : Monogenea dan Digenea. Jenis Monogenea hanya mempunyai satu tuan rumah saja. Telurnya yang dilepas kedalam air tidak banyak jumlahnya, bahkan kadang-kadang hanya satu butir saja. Larva yang terjadi langsung melekat pada tuan rumahnya, misalnya ikan, katak, atau reptil. Kadang-kadang di dalam suatu perairan terdapat bsnysk sekali larva yang semacam itu sehingga dapat mematikan banyak anak ikan, misalnya jenis Gyrodactylus yang hidup pada sirip, kulit dan insang ikan mas. Jenis hewan dalam ordo ini merupakan parasit luar (ektoparasit) vertebrata, pada manusia belum pernah di dapat.


IV. HASIL PENGAMATAN
1.      Planaria sp
Foto pengamatan
                                                                       Keterangan:
1.      mulut
2.      Posterior
3.      Tubuh







Text Box:  Foto literatur
Keterangan:
1.  Mulut
2.  Otak
3.  Anterior
4.  Posterior
5.  Mata
6.  Tubuh




2.      Fasciola Hepatica

Text Box:   
    Bagain belakang        Bagian depan
Foto pengamatan
                                                                                                     Keterangan:
1.  Ventrosa oral
2.  Ventrosa ventral
3.  Intestine remificado
4.  Faringe  musculosa
5. Poro genital
           



Text Box:  Foto literatur
                                                                                         Keterangan:
1.      Ventrosa oral
2.      Ventrosa ventral
3.      Intestine remificado
4.      Faringe musculosa
5.      Poro genital

3.      Siklus hidup Platyhelminthes
Foto pengamatan










Text Box:  Foto Literatur
















V. ANALISIS DATA
1. Planariaa Sp
Klasifikasi               :
Kingdom                  : Animalia  
Phylum                     : Platyhelminthes
Class                       : Turbellaria
Ordo                        : Tricladida
Sub ordo                  : Paludicola
Family                     : Tricladidae
Genus                      : Planaria
Species                     : Planaria sp.
Sumber                     : (Verma. 2002)
               Phylum Platyhelminthes kelas Turbellaria yang diwakili dengan mengamati Planaria sp. Planaria sp dapat ditemukan di sungai, mata air, kolam dan danau di bawah batu-batuan atau di tempat-tempat yang agak dingin dan terhindar dari polusi. Biasanya cacing ini menempel di batuan atau di daun yang tergenang air. Bila kita ingin mengambil cacing ini cukup kita beri umpan sepotong daging ke perairan yang kita duga terdapat cacing itu. Bila ditempat itu memang ada cacing Planaria sp maka cacing tersebut akan menempel pada umpan.
               Bentuk tubuh Planaria ini adalah pipih dorsoventral, dengan bagian kepala yang berbentuk seperti segitiga, sedangkan bagian ekornya berbentuk meruncing. Panjang tubuh planaria sekitar 5-25 mm, tetapi bagi Planaria yang hidup di darat dapat mencapai 60 cm. Bagian tubuh sebelah dorsal warnanya lebih gelap daripada tubuh sebelah ventral. Di bagian kepala yaitu di bagian samping kanan dan kiri terdapat tonjolan yang menyerupai telinga yang biasa disebut aurikel. Tepat di bawah bagian kepala terdapat bagian tubuh menyempit yang menghubungkan bagian badan dan bagian kepala, disebut bagian leher. Kira-kira di dekat pertengahan tubuh bagian ventral agak ke arah ekor ditemukan lubang mulut. Lubang mulut ini berhubungan dengan kerongkongan atau pharynx yang dindingnya dilengkapi dengan otot daging sirkular maupun longitudinal. Kerongkongan ini dapat ditarik dan dijulurkan. Dalam posisi menjulur, kerongkongan tersebut bentuknya mirip dengan belalai, dan biasa disebut proboscis.
               Cacing ini bergerak dengan cara mengangkat bagian posterior tubuhnya. Tepat dibawah bagian kepala, yaitu bagian samping kanan dan kiri terdapat tonjolan yang menyerupai telinga. Dan tepat dibawah kepala terdapat bagian menyempit yang menghubungkan bagian badan dan bagian kepala yang disebut leher. Di sepanjang pinggiran tubuh bagian ventral ditemukan zona adesif. Zona adesif tersebut menghasilkan zat yang liat yang berfungsi untuk melekatkan diri dipermukaan benda yang ditempelinya. Di permukaan ventral pada tubuh terdapat rambut-rambut getar halus yang berfungsi dalam pergerakan. Gerakannya lurus sepanjang lendir yang diekskresikannya.
               Makanan cacing ini terdiri dari hewan-hewan kecil lainnya yang masih hidup maupun yang telah mati. Cara makan atau menangkap mangsa pada Planaria, mula-mula Planaria sp bergerak meluncur selama mengejar mangsanya kemudian ujung anteriornya dibelokkan apabila tersentuh oleh mangsa kemudian Planaria sp akan melingkarinya. Dengan lendir excert glandulae mucosae yang terdapat di sepanjang sisi badan dan kapsula, maka mangsa dapat lingkari dengan erat menangkap mangsa. Setelah itu mangsa yang sudah dilingkari tadi dimasukkan ke dalam mulutnya. Kemudian Planaria sp diam dengan separo badan mangsa pada bagian anterior dan separo badannya diliputi bagian posteriornya. Untuk selanjutnya faring akan ditonjolkan keluar untuk mengambil mangsa dan dengan segera mangsa ditarik masuk ke dalam mulut bersama faring.
               Sistem pencernaannya terdiri atas mulut, proboscis, faring dan usus yang bercabang. Mulut terletak pada permukaan ventral tepatnya di bagian belakang tengah tubuhnya. Proboscis yaitu tenggorokan yang dapat ditonjolkan ke luar yang terletak kira-kira di tengah-tengah mulut. Faring terletak tepat di belakang. Makanan masuk melalui mulut, dan diedarkan ke seluruh tubuh melalui cabang-cabang usus. Cabang usus tersebut ada 3, satu menuju anterior dan dua menuju posterior. Makanan yang tidak dicerna akan dikeluarkan kembali melalui mulutnya karena Planaria sp tidak mempunyai anus.

2.   Cacing hati (Fasciola hepatica)
     Klasifikasi
Kingdom               : Animalia
Sub kingdom                    : Invertebrata
Phylum                  : Platyhelminthes
Classis                   : Trematoda
Order                     : Digenia
Familia                  : Digeniadae
Genus                    : Fasciola
Species                  : Fasciola hepatica
(Hegner & Engemen : 1968)
            Fasciola hepatica yang termasuk jenis kelas Trematoda. Pada praktikum ini kami menggunakan dua bahan yaitu dari awetan Fasciola hepatica dan keong mas untuk mengamati siklus hidup cacing tersebut yang terdapat didalam keong mas. Keong mas tersebut sebagai inang perantara. Dan kami berhasil menemukan siklus hidupnya yang telah memasuki fase serkaria. Pada fase ini serkaria yang mempunyai ekor dapat menembus jaringan tubuh siput dan keluar berenang dalam air. Kemudian ciri-ciri dari cacing hati ini mempunyai dua alat hisap, satu didepan dan satu lagi dibagian belakang tubuhnya. Mulutnya terletak di tengah-tengah alat isap depan. Hewan ini hidup parasit dalam kantung empedu pada biri-biri, sapi, babi, dan hewan pemakan rumput lainnya, dan kadang ditemukan juga pada manusia. Cacing hati mempunyai ukuran panjang 2,5 – 3 cm dan lebar 1 - 1,5 cm.
            Tubuh Fasciola hepatica adalah triploblastik. Ektoderm tipis yang dilapisi oleh kutikula yang berfungsi melindungi jaringan di bawahnya dari cairan hospes. Ektoderm mengandung sisik kitin dan sel-sel tunggal kelenjar.  Endoderm melapisi saluran pencernaan. Mesoderm merupakan jaringan yang membentuk otot, alat ekskresi, dan saluran reproduksi. Disamping itu terdapat jaringan parenkim yang mengisi rongga antara dinding tubuh dengan saluran pencernaan.

3.      Siklus hidup Platyhelminthes
 Siklus Hidup Platyhelminthes :
a.      Cacing dewasa bertelur di dalam saluran empedu dan kantong empedu sapi atau domba. Kemudian telur keluar ke alam bebas bersama feses domba. Bila mencapai tempat basah, telur ini akan menetas menjadi larva bersilia yang disebut mirasidium. Mirasidium akan mati bila tidak masuk ke dalam tubuh siput air tawar (Lymnea auricularis-rubigranosa).
b.      Di dalam tubuh siput ini, mirasidium tumbuh menjadi sporokista (menetap dalam tubuh siput selama + 2 minggu).
c.      Sporokista akan menjadi larva berikutnya yang disebut Redia. Hal ini berlangsung secara partenogenesis.
d.      Redia akan menuju jaringan tubuh siput dan berkembang menjadi larva berikutnya yang disebut serkaria yang mempunyai ekor. Dengan ekornya serkaria dapat menembus jaringan tubuh siput dan keluar berenang dalam air.
e.      Di luar tubuh siput, larva dapat menempel pada rumput untuk beberapa lama. Serkaria melepaskan ekornya dan menjadi metaserkaria. Metaserkaria membungkus diri berupa kista yang dapat bertahan lama menempel pada rumput atau tumbuhan air sekitarnya. Perhatikan tahap perkembangan larva Fasciola hepatica.
f.       Apabila rumput tersebut termakan oleh domba, maka kista dapat menembus dinding ususnya, kemudian masuk ke dalam hati, saluran empedu dan dewasa di sana untuk beberapa bulan. Cacing dewasa bertelur kembali dan siklus ini terulang lagi.

Dalam daur hidup cacing hati ini mempunyai dua macam tuan rumah yaitu:
1)     Inang perantara yaitu siput air
2)     Inang menetap,yaitu hewan bertulang belakang pemakan rumput seperti sapi dan domba..




VI. KESIMPULAN
1.      Planaria sudah mempunyai alat indera berupa bintik mata, dan indera aurikel yang kedua-duanya terletak di bagian kepala.
2.      Tubuh Planaria berbentuk pipih dorsoventral, dengan bagian kepala yang berbentuk segitiga, sedangkan bagian ekornya berbentuk meruncing.
3.      Planaria sp bergerak menggunakan silia yang terdapat pada epidermis tubuhnya dan gerakannya lurus sepanjang lendir yang diekskresikannya.
4.      Cara makan Planaria sp. adalah dengan memasukkan mangsanya ke dalam mulut dan dikeluarkan melalui mulut lagi, karena saluran pencernaannya hanya terdiri dari mulut, faring, dan usus, tidak mempunyai anus.
5.       Fasciola hepatica yang ditemukan pada lendir keong merupakan siklus hidup hewan tersebut dan yang ditemukan sudah memasuki fase serkaria.
6.      Fasciola hepatica biasanya hidup sebagai parasit pada hewan-hewan ternak dan larvanya biasanya hidup di dalam tubuh siput.
7.      Daur hidup Fasciola hepatica dari telur → larva (mirasidium) → sporokista → redia → serkaria → metaserkaria → cacing dewasa (pada hati hewan ternak).





VII.          DAFTAR PUSTAKA

Anonim a. 2016. http://phobos.ramapo.edu/~spetro/Slides/ planaria_wholemount.jpg Diakses tanggal 8 Mei  2016
Anonim b. 2016. http://www.wwa-fs.bayern.com Diakses tanggal 8 Mei 2016
Anonim c. 2016. http://phobos.ramapo.edu/~spetro/Slides/ planaria_siklus.jpg Diakses tanggal 8 Mei 2016
Bunda Halang, Dharmono, Mahrudin. 2016. Penuntun Praktikum Zoologi Invertebrata. Jurusan: PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin.
Rusmana, adam. 2011. Zoologi Invertebrata.Alfabeta. Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar